Nabire, Kalawaibumiofi.com | Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Papua Tengah mengungkapkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut sempat melonjak tajam pada periode 19–22 Agustus 2026. Pada puncak kejadian, petugas harus menangani sembilan hingga 10 titik kebakaran dalam satu hari, sehingga kapasitas operasional maupun jumlah tenaga pemadam sempat berada pada batas kemampuan maksimal.
Sekretaris BPBD Provinsi Papua Tengah, Martinus Rumbino, menjelaskan bahwa sebelum memasuki masa puncak kebakaran, jumlah titik api di wilayah Nabire relatif sedikit, bahkan hanya sekitar satu titik per hari. Namun, kondisi berubah drastis mulai 19 Agustus 2026. Jumlah titik yang ditangani meningkat menjadi tiga hingga 10 titik per hari, dengan kondisi terparah terjadi pada rentang 20–22 Agustus 2026.
“Dalam satu hari itu bisa sembilan sampai 10 titik. Itu sebenarnya sudah over, baik secara operasional maupun tenaga,” ujar Rumbino di Kantor Damkar Provinsi Papua Tengah, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Morgo, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire, Senin (31/8/2026).
Kondisi tersebut mendorong BPBD membutuhkan dukungan lintas sektor. Setelah pertemuan yang diprakarsai Sekretaris Daerah Papua Tengah, dukungan mulai mengalir dari TNI dan Polri, berupa bantuan pemadaman, suplai air, pengawasan wilayah, hingga penegakan hukum terhadap dugaan pembakaran lahan.
Rumbino menegaskan penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api. Edukasi kepada masyarakat mengenai cara membuka lahan juga menjadi bagian penting untuk mencegah kebakaran meluas. Ia menjelaskan bahwa fenomena El Nino dan kekeringan menyebabkan bahan yang mudah terbakar tersedia melimpah di lapangan, sehingga ketika terdapat sumber api, kebakaran dapat dengan cepat meluas.
“Untuk kebakaran itu cuma tiga hal, api, oksigen dan bahan bakar. Oksigen ada, bahan bakarnya ada, tinggal menunggu api,” katanya.
Selain Nabire, BPBD Papua Tengah juga memantau kondisi di sejumlah kabupaten lain. Di Kabupaten Puncak, misalnya, kekeringan telah berdampak pada tiga Distrik Agandugume, Lambewi, dan Oneri serta menyebabkan gangguan terhadap hasil panen masyarakat. Karhutla juga dilaporkan terjadi di wilayah Paniai, Deiyai, hingga kawasan perbukitan di perbatasan Nabire dan Dogiyai.
Kondisi kebakaran mulai menurun setelah hujan turun dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan pemantauan terbaru, jumlah titik panas (hotspot) mengalami penurunan signifikan. Pada 29 Agustus 2026 masih tercatat 12 titik dengan tingkat kepercayaan rendah hingga sedang, dan pemantauan terkini menunjukkan kondisi hotspot telah jauh membaik.
Rumbino berharap kondisi cuaca terus membaik sehingga masyarakat Papua Tengah dapat kembali beraktivitas dengan tenang. Ia juga mengingatkan masyarakat agar tetap berhati-hati saat membuka lahan, terutama selama periode kekeringan dan fenomena El Nino.
“Ini menjadi pembelajaran bagi kita bagaimana menghadapi kekeringan dengan kondisi fenomena El Nino,” pungkasnya. [*]













