
Nabire, Kalawaibumiofi.com | Ribuan Umat Katolik Paroki Kristus Sahabat Kita (KSK) Nabire menggelar kegiatan ‘visualisasi’ kisah Sengsara Yesus Kristus Tahun 2026 dengan penuh khidmat dan kekhusyukan, Jumat (3/4/2026).
Prosesi dimulai dari titik kumpul di Gerbang Nun Biru atau Taman Gizi, Jalan Yos Sudarso Oyehe. Rombongan kemudian berjalan melintasi Jalan Merdeka (Tugu Nabire Hebat), Jalan Pepera, hingga Jalan Jenderal Sudirman, dan berakhir di area Paroki KSK Bukit Meriam.

Rangkaian kegiatan ini menggambarkan perjalanan sengsara Yesus Kristus hingga penyaliban, yang dimaknai Bukit Meriam sebagai perhentian terakhir yang sakral dalam visualisasi tersebut.
Dalam peragaan teater jalanan ini, adegan dimulai dari doa Yesus di Taman Getsemani, pengkhianatan, penangkapan, hingga persidangan. Rangkaian ini dilanjutkan dengan 14 Perhentian Jalan Salib, hingga puncaknya adegan penyaliban Yesus di atas bukit.

Matias Ulu, yang dipercaya memerankan tokoh Yesus Kristus dalam kegiatan tersebut, mengaku merasakan pengalaman batin yang sangat dalam selama prosesi berlangsung.
“Awalnya kondisi badan saya sempat kurang sehat, tetapi saya tetap memaksakan diri untuk ikut karena panggilan hati. Saat menjalani setiap perhentian, saya benar-benar menghayati setiap rasa sakit dan pengorbanan Tuhan sampai menangis. Setelah selesai, justru hati terasa sangat lega dan ringan,” ujar Matias.

Kalawai / Ana RRI
Sementara itu, Koordinator Seksi Penyaliban Panitia Paskah KSK Nabire, Yohan Reyaan, menjelaskan bahwa kegiatan tahun ini diikuti oleh sekitar dua ribu umat yang datang dari berbagai lingkungan paroki.
“Prosesi visualisasi ini rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai bagian dari permenungan mendalam di masa Prapaskah. Kami berharap umat tidak hanya menyaksikan, tetapi juga mampu mengambil makna pengorbanan Kristus untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Yohan yang juga Ketua Dewan Paroki KSK Nabire ini mengatakan, kisah ini mengandung makna mendalam bahwa Yesus Kristus memikul salib dan menerima sengsara bukan karena dosa yang diperbuat-Nya, melainkan sebagai wujud kasih yang tak terbatas untuk menebus dosa seluruh umat manusia.
“Pengorbanan-Nya menjadi simbol kasih, pengampunan, dan harapan keselamatan, yang berpuncak pada kebangkitan-Nya pada Hari Paskah sebagai kemenangan mutlak atas dosa dan maut,” kata Yohan.

Pastor Paroki KSK Nabire, Yohanes Adrianto Dwi Mulyono, SJ, turut menyampaikan pesan pastoral kepada seluruh umat.
“Semoga melalui rangkaian perayaan hari besar Gereja, mulai dari Kamis Putih, Jumat Agung, hingga Paskah Suci, serta visualisasi sengsara Kristus hari ini, iman umat semakin diteguhkan. Semoga kita semua mampu menghidupi nilai kasih dan pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Romo Yohanes.
Dijelaskannya lebih lanjut, panitia juga akan menggelar Pawai Obor yang dilaksanakan pada Minggu subuh. Pawai akan berangkat dari Lapangan Kodim Nabire dan berakhir kembali di Gerbang Nun Biru atau Taman Gizi,” tutupnya. [*]


















